Downloader Mikrokontroler AVR-ATmega8535

Keunggulan yang dimiliki oleh mikrokontroler AVR dibandingkan dengan mikrokontroler MCS pada cara memasukkan program (upload program) dari komputer ke chip mikrokontroler terletak pada kemudahannya. Mikrokontroler MCS membutuhkan perangkat tambahan berupa IC untuk proses koneksi antara mikrokontroler ke komputer, sedangkan mikrokontroler AVR dapat langsung diprogram dari port pararel komputer menuju pin mikrokontroler AVR.

Konfigurasi kabel downloder AVR-ATmega 8535 dan AVR-ATmega16

downloader-avr

Konfigurasi PonyProg2000

Software Pony Prog 2000 berfungsi mendownload file .hex ke flash memori AVR-ATmega8535. Selain untuk jenis AVR ATmega8535 dapat untuk jenis Atmel AVR yang lain seperti ATmega 16, ATmega 32, dll. Sebelumnya, pasang terlebih dahulu kabel downloader dari port pararel komputer ke port mikrokontroler yang digunakan.
Berikut langkah-langkah untuk men-download program hexa ke dalam memori flash ATMega8535 :

1. Buka Program PonyProg2000 maka akan muncul tampilan sebagai berikut lalu klik OK.
ponyprog2000

2. Apabila pemakaian pertama kali program PonyProg2000 harus dilakukan Interface Setup. Pilih pada menu Setup kemudian pilih pada Interface Setup.

verifikasi-interface-setup

3. Apabila menggunakan paralel port maka pilihan seperti pada gambar dibawah. Kemudian klik OK.

kotak-dialog-interface-setup

4. Pilihan Jenis Mikrokontroler “AVR micro” dan ATmega 8535 jika menggunakan mikrokontroler ATmega 8535.

pilihan-jenis-mikrokontroler

5. Buka file hexa dengan cara klik menu File kemudian pilih pada Open Device File. Pilih file dengan ekstensi .hex

buka-file-mikro

6. Untuk proses download ke flash memori ATMega8535. Pilih Menu Command kemudian klik pada Write All

perintah-write-download-mikrokontroler

7. Setelah berhasil klik OK. Maka file Hexa telah berhasil di-download ke flash memori ATMega8535. Jalankan mikrokontroler.

http://fahmizal-note.web.id

Konverter 7-40 VDC ke 5 VDC dengan LM2576

Saat anda membangun aplikasi mikrokontroler ataupun peralatan elektronika lain yang membutuhkan tegangan 5VDC, padahal anda hanya memiliki catudaya 12 VDC, maka anda perlu mengubah tegangan 12VDC menjadi 5VDC. Untuk mengubah tegangan menjadi 5VDC, anda bisa gunakan LM2576 5VDC. LM2576 merupakan IC (integrated circuit) regulator daya untuk menurunkan tegangan. Banyak tipe dari IC ini, ada LM2576 12VDC, LM2576 3,7VDC dsb, pemilihan tergantung dari berapa tegangan yang diinginkan sebagai outputnya.

Bahan yang diperlukan:

Bahan Deskripsi Nilai Jumlah
C1 Electrolytic Capacitor (Axial) 100uF 75V x1
C2 Aluminum Electrolytic Capacitors (Axial) 1000uF 16V x1
D1 Diode (high current) 1N5822 x1
L1 Inductor 100uH x1
U1 7-40V to 5V DC-DC 3.0A LM2576T5 x1
R1 Resistor 1K x1
DS1 Typical INFRARED GaAs LED x1
JP1 Header, 2-Pin x1
JP2 Header, 2-Pin x1
PCB PCB board 60×50mm 1 oz x1

Berikut skema regulator daya LM 2576 5VDC:

lm2576_dcdc_schematic2

Berikut gambar alatnya:

img_70531

Sekian dan terima kasih. Jika ada pertanyaan, komentar aja..

Robot Line follower dengan IC L293D

Robot Line Follower dapat dibuat tanpa menggunakan mikrokontroller. Robot ini dapat dibuat secara analog dengan memanfaatkan gerbang logika, baik dengan bantuan transistor maupun IC L293D. Cara kerja robot line follower terletak pada sensor cahaya yang menjejak garis hitam dengan memainkan saklar ON/OFF.

Berikut skema rangkaian robot line follower:

logic-circuits-robot-schemeResistor R2 dapat digunakan untuk mengatur sensivitas sensor.

Saat sensor dikenai cahaya (bagian putih), phototransistor akan terbuka dan memberikan INPUT 1 ke driver motor L293D sehingga sesuai kondisi OUTPUT 1, motor 1 akan berputar. Sinyal tegangan dari phototransistor juga akan disimpan sebagai input “NOT”, yang akan mengubah logika “1″ ke logika “0″ dan memberikan INPUT 4.

condition-1-phototransistor-illuminated

Saat robot berputar dan sensor berada di luar tempat putih/ hitam, phototransistor akan tertutup dan sinyal INPUT 1 akan bernilai “0″, motor 1 berhenti. Logika “0″ akan dibalik oleh IC NOT dan memberikan logika “1″ maka motor 2 bergerak.

condition-2-phototransistor-is-not-coveredBerikut adalah datasheet IC 7404 atau gerbang logika “NOT”
7404-pin-out

Terima kasih sudah mampir dan selamat mencoba.

(shy)

TRAFFIC LIGHT PROJECT

Rutinnya kecelakaan para pejalan kaki maupun pengendara karena adanya pelanggaran lalulintas saat penyeberangan telah memakan puluhan nyawa korban. Lampu lalulintas (traffic light) menjadi salah satu pemegang peranan penting dalam pengaturan kelancaran lalulintas khusunya pemakai jalan. Sistem pengendalian lampu lalulintas yang baik akan secara otomatis menyesuaikan diri dengan kepadatan arus lalulintas pada jalur yang diatur. Lalu bagaimana kalau andaikata system pengaturan lampu lalulintas tidak beroperasi semestinya? Tentu ini akan menimbulkan masalah lalulintas kan.

Dalam kesempatan kali ini, saya akan coba menjelaskan prinsip kerja traffic light dan pemodelan rangkaian traffic light yang akan dibuat.

Berikut komponen elektronika yang dibutuhkan:

  • resistor: 470 × 3, 22k, 100k
  • 555 timer IC, NE555
  • kapasitor: 0.1µF, 1µF 16V radial, 10µF 16V radial
  • 4017 counter IC
  • dioda: 1N4148 × 6
  • DIL soket: 8-pin, 16-pin
  • LED: merah, kuning dan hijau
  • on/off switch
  • 1M preset, horizontal
  • baterai 9 V
  • PCB

Prinsip Kerja :

Projek ini mengoperasikan LED merah, kuning dan hijau sesuai urutan lampu lalu lintas. Waktu untuk melengkapi urutan merah - kuning - hijau dapat divariasi dengan mengatur preset 1M. Rangkaian 555 memberikan pulsa clock ke counter 4017 yang mana menghasilkan 10 output (Q0 sampai P9). Output menjadi tinggi pada gilirannya saat pulsa clock diterima. Output yang sesuai dihubungkan dengan dioda untuk menyalakan LED kuning dan hijau. Dan LED merah terhubung ke output +10.

Skema Rangkaian:

counter

rangkaian-traffic-light

Sekian dulu yaa..  btw projeknya baru dibuat, nanti ane share. thanks uda mampirr ma jgn lupa komentar (sleeping)

Detector Pencurian Kabel PLN

Latar Belakang

Kasus pencurian kabel listrik milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) marak terjadi. Pencurian kabel listrik kerap terjadi di daerah pinggiran yang jauh dari pemantauan dan pengawasan petugas PLN. Para pencuri banyak mengambil kabel listrik di dalam tanah sehingga merusak jaringan listrik. Kabel yang diambil biasanya kabel netral yang berfungsi sebagai penyeimbang tegangan listrik. Dampak diambilnya kabel seharga Rp270.000,00 per meter itu, menyebabkan tegangan listrik pelanggan tidak stabil dan sering terjadi pemadaman. Cara mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan membuat detector pencurian kabel ground PLN.

Tujuan

1. 1. Membuat detector pencurian kabel ground PLN berbasis switching transistor.

2. 2. Mencegah dan menanggulangi pencurian kabel ground PLN.

Skema Rangkaian dengan orCAD 9.1

skema

Skema Layout PCB dengan orCAD 9.1

layout-pcb

Hasil Percobaan

Kabel yang menyuplai tegangan basis BD139 disamarkan menjadi kabel ground PLN. Jika kabel ground belum dipotong maka, tegangan basis terbumikan sehingga transistor dalam kondisi OFF. Kondisi OFF transistor mengakibatkan kumparan relay tidak tercatu sehingga LED flip-flop dalam kondisi OFF.

off

Sedangkan pada saat kabel ground PLN dipotong, berarti kita telah memotong kabel dari ground menuju basis transistor. Hal tersebut mengakibatkan basis transistor akan tercatu, sehingga BD139 dalam kondisi ON. Kondisi ini mengakibatkan koil dari relay tercatu sehingga menutup pelat saklar relay. Menutupnya pelat saklar relay mengakibatkan LED flip-flop menyala.

on

Penutup

Salam buat Fu’ad Purnomo, Fahrudin Ahmad, Hastho Wuriatmo, Nanang Agus S dan Teguh Sulistyono.

Semoga bermanfaat  (idiot)

STRING ANALYZER DENGAN DELPHI 7.0

Program ini saya buat menggunakan Delphi 7.0 dan bertujuan untuk memanipulasi “string” dengan mengikuti aturan berikut :

1. Reverse String; fungsinya untuk membalik semua karakter ” string”.

//  Reverse String

begin

memo1.Text:=”;

j:=1;

for i:=Length(Edit1.Text) downto 1 do

begin

memo1.text:=memo1.text+copy(Edit1.Text,i,1 );

j:=i+1;

memo1.text:=memo1.text + ”;

end;

2. Reverse StringPerWord; fungsinya untuk membalik semua karakter “string” untuk tiap kata.

//  Reverse String Per Word

begin

Memo2.text:=”;

k:=1;

for i:=1 to Length(Edit1.Text) do

begin

if (Copy(Edit1.Text,i,1)=’ ‘) or (i=Length(Edit1.Text)) then

begin

if i=Length(Edit1.Text) then

j:=i

else j:=i-1 ;

for l:=j downto k do

begin

memo2.text:=memo2.text+copy(Edit1.Text,l,1 );

end;

k:=i+1;

memo2.text:=memo2.text + ‘ ‘;

end;

3. Reverse word; fungsinya untuk membalik kalimat tiap kata.

// Reverse Word

begin

memo3.Text:=’ ‘;

j:=1;

for m:=Length(memo2.Text) downto 1 do

begin

memo3.text:=memo3.text+copy(memo2.Text,m,1 );

j:=m+1;

memo3.text:=memo3.text + ”;

end;

4.  Convert Upper/Lower; fungsinya untuk mengubah karakter “upper to lower” dan sebaliknya.

// Convert Upper/Lower

begin

s:=edit1.Text+’ ‘;

for n:=1 to length(s) do

if s[n] in ['a'..'z'] then

s[n]:=upcase(s[n]) else

if s[n] in ['A'] then

s[n]:=’a’ else

if s[n] in ['B'] then

s[n]:=’b'else

if s[n] in ['C'] then

s[n]:=’c’ else

if s[n] in ['D'] then

s[n]:=’D’ else

if s[n] in ['E'] then

s[n]:=’E’ else

if s[n] in ['F'] then

s[n]:=’F’ else

if s[n] in ['G'] then

s[n]:=’G’ else

if s[n] in ['H'] then

s[n]:=’h’ else

if s[n] in ['I'] then

s[n]:=’i’ else

if s[n] in ['J'] then

s[n]:=’j’ else

if s[n] in ['K'] then

s[n]:=’k’ else

if s[n] in ['L'] then

s[n]:=’l’ else

if s[n] in ['M'] then

s[n]:=’m’ else

if s[n] in ['N'] then

s[n]:=’n’ else

if s[n] in ['O'] then

s[n]:=’o’ else

if s[n] in ['P'] then

s[n]:=’p’ else

if s[n] in ['Q'] then

s[n]:=’q’ else

if s[n] in ['R'] then

s[n]:=’r’ else

if s[n] in ['S'] then

s[n]:=’s’ else

if s[n] in ['T'] then

s[n]:=’t’ else

if s[n] in ['U'] then

s[n]:=’u’ else

if s[n] in ['V'] then

s[n]:=’v’ else

if s[n] in ['W'] then

s[n]:=’w’ else

if s[n] in ['X'] then

s[n]:=’x’ else

if s[n] in ['Y'] then

s[n]:=’y’ else

if s[n] in ['Z'] then

s[n]:=’z'else

memo4.text:=s;

end;

5. Convert Character(1,0,x); fungsinya untuk mengubah huruf vokal menjadi ‘1′, huruf konsonan ‘0′ dan karakter lain menjadi ‘x’

// Convert Character (1,0,x)

begin

s:=edit1.Text;

for n:=1 to length(s) do

if s[n] in ['a','u','e','i','o','A','I','E','O','U'] then

s[n]:=’1′

else

if s[n] in ['b','c','d','f','g','h','j','k','l','m','n','p','q','r','s','t','v','w','x','y','z','B','C','D','F','G','H','J','K','L','M','N','P','Q','R','S','T','V','W','X','Y','Z'] then

s[n]:=’0′

else s[n]:=’x';

memo5.text:=s;

Sample Input :

Input String                            : This is my f1rst pr0gr@m

Sample Output :

Reverse String                         : m@rg0rp tsr1f ym si sihT

Reverse StringPerWord       : sihT si ym tsr1f m@rg0rp

Reverse Word                          : pr0gr@m f1rst my is This

Convert Upper/Lower         : tHIS IS MY F1RST PR0GR@M

Convert Character (1,0,x)  : 0010×10x00×0x000×00x00×0

Visualisasi program :

string-analyzer

Link Download : “STRING ANALYZER”

Cape kang mbakyu nulis blog kui.. dinikmati maca ne, umpama ene pitakon ra sah isin, takon wae. (idiot)

Mudah belajar microcontroller

Banyak orang ingin belajar microcontroller, namun setelah tahu bahasa pemogramannya berupa bahasa assembly yang nampak jelimet dan ruwet terpaksa mengurungkan niatnya untuk belajar. hal ini suatu keputusan yang salah, karena selain bahasa assembly ternyata microcontroller bisa di program menggunakan bahasa yang lain. Salah satunya adalah bahasa C.

Mengapa menggunakan bahasa C?

  1. Populer dan mudah di mengerti
  2. Sangat efficient
  3. Bagus dalam mengakses hardware menggunakan pointer
  4. Program bisa di buat terstruktur menggunakan fungsi dan modul
  5. Untuk pemograman logika dan aritmatika lebih simple
  6. dll.

Ingat ! Bahasa C bukan bahasa yang perfect untuk pemograman microcontroller, tetapi pilihan yang tepat untuk belajar microcontroller.

Tipe Variable

Variabel dalam microcontroller di representasikan dalam bentuk bit, byte, word dan lain sebagainnya. Contohnya adalah seperti berikut.

Variable bit Nilai
bit 1 bit 0 / 1
char 8 bit 0 s/d +127 atau 0 s/d -127
unsigned char 8 bit 0 s/d +255
int 16 bit 0 s/d +32768 atau 0 s/d -32768
unsigned int 16 bit 0 s/d +32768
long 32 bit 0 s/d +2.147483648×109 atau 0 s/d -2.147483648×109
unsigned long 32 bit 0 s/d +4.29496795×109
float 32 bit +/- 1.176E-38 s/d +/-3.4E+38
pointer 24/16/8 bit alamat variable

Struktur program bahasa C

struktur program bahasa C ada 3 point penting, yaitu :

1. Pre-Processor

2. Main Function

3. Function

Pre-Processor

Pada pemograman bahasa C setidaknya ada 2 syntax yang sering kita temukan pada header program, seperti :

1. #include

2. #define

#include berfungsi untuk memanggil library / prototype fungsi yang ada pada header file. Header file adalah file yang berisi prototype fungsi yang dipanggil oleh pre-processor pada waktu pertama kali program dijalankan. Header file bisa di kenali dengan cara melihat extention dari file tersebut, yaitu berupa *.h.  * adalah nama file, sedangkan h adalah header. untuk extention h bisa huruf kecil, juga bisa huruf besar.

Contoh.

#include<stdio.h> —-> Menyatakan pada compiler agar membaca file bernama stdio.h

#include<panas_dingin.h> —-> Menyatakan pada compiler agar membaca file bernama panas_dingin.h

#define berfungsi untuk mendefinikan konstanta-konstanta yang di gunakan dalam program. Dengan menggunakan syntax ini pemograman bisa di lakukan lebih mudah.

Misalnya :

#define LED P1_0   —->LED = P1_0

maksud dari pendifinisan di atas adalah konstanta LED itu sama dengan P1.0 artinya dalam program tidak perlu menulis P1_0 cukup tulis LED.

Main Function

Fungsi ini merupakan fungsi utama dalam program dan di panggil pertama kali saat program di jalankan. Dalam fungsi ini bisa terdapat konstanta dan fungsi-fungsi lain.

Conntoh.

main()

{

//tulis program di sini

}

fungsi main() merupakan fungsi utama program. Tanda kurung ( ) setelah kata main menyatakan tidak ada argumen yang di lewatkan pada fungsi main. Sedangkan untuk tanda “{” merupakann pernyataan awal program dan tanda “}” merupakan perntaan akhir program.

Fungsi

Fungsi ini boleh di katakan fungsi pelengkap. fungsi ini bisa berupa fungsi yang di buat oleh user program dan bisa juga fungsi yang sudah ada dalam bahasa C. Fungsi ini bisa di panggil oleh fungsi lain dan bisa memanggil fungsi lain. Perbedaan dengan fungsi utama, fungsi utama tidak bisa di panggil oleh fungsi lain, tetapi bisa memanggil fungsi lain.

Contoh program lengkap bahasa C untuk pemograman microcontroller AT89S51 menggunakan software keil uvision3.

#include<AT89X51.h>

#include<stdio.h>

#define LED P1_0

void test_led();

void test_led()

{

P1=0;

LED=1; // P1.0=1;

}

main()

{

test_led();

}

Penjelasan program.

#include<AT89X51.h>

Menyatakan pada compiler agar membaca file header untuk microcontroller AT89S51 dengan nama file AT89X51.h

#include<stdio.h>

File header stdio.h digunakan untuk penanganan input / output standar seperti penulisan ke layar atau ke file atau pembacaan data dari keyboard atau file.

#define LED P1_0

Pendefinisian konstanta LED yang di definisikan sebagai Port 1 bit 0. Jika di program di tulis LED berarti sama dengan P1_0

void test_led();

Pendeklarasian dari prototype fungsi  test_led();

Penjelasan dari fungsi test_led() adalah sebagai berikut :

void test_led()  —->nama fungsi;

{  —->merupakan pernyataan awal dari fungsi test_led();

P1=0; —-> set port 1 microcontroller ke kondisi low. artinya Port 1 bit 0 s/d bit 7 di set 0

LED=1; // P1.0=1; set port 1 bit 0 ke kondisi high (1);

}  —->merupakan pernyataan akhir / penutup dari fungsi test_led();

Penjelasan dari fungsi main() adalah sebagai berikut :

main()  —>fungsi utama main();

{  —–>Pernyataan awal program

test_led(); —->memanggil dan menjalankan fungsi test_led();

}

Penjelasan jalannya program

  1. Complier membaca file pengarah pre-processor yang terdiri dari file AT89X51.h dan stdio.h
  2. Compiler membaca konstanta pengarah preprocessor #define LED P1_0
  3. Compiler membaca prototy[e fungsi test_led();
  4. Compiler menjalankan fungsi utama main();
  5. Saat fungsi utama di jalankan, fungsi uatama main() memanggil / menjalankan fungsi test_led()
  6. finish.

Setelah program di compile, file hex hasil compile bisa anda burning ke microcontroller menggunakan ISP programmer AT89/90 Series. Anda jalankan, lalu lihat hasilnya. Jika anda males untuk melakukan itu, anda bisa lakukan simulasi menggunakan keil C51 uvision3.

Sumber : www.zanexio.com

Pengenalan PLC

Apakah PLC itu ?

PLC adalah miniatur komputer industri yang terdiri dari hardware (perangkat keras) dan software (perangkat lunak) yang digunakan untuk menjalankan fungsi-fungsi tertentu, seperti sekuensial, logika, aritmatika, dll. untuk mengendalikan berbagai jenis mesin ataupun proses . Berikut adalah contoh PLC unit Q series Mitsubishi.

Dimanakah PLC itu di gunakan?

1. Applikasi PLC untuk high speed feeder

2. Applikasi PLC untuk material handling

3. Applikasi PLC untuk pelabelan produk

Piranti Penyusun PLC

Seperti apa yang di jelaskan di atas, bahwa PLC merupakan miniatur komputer, maka piranti penyusun PLC secara garis besar adalah sama dengan komputer.

I. CPU

CPU merupakan otak PLC. Program yang tersimpan dalam memori PLC di panggil dan di proses oleh CPU. proses ini di sebut sebagai menjalankan program. CPU PLC biasanya terdiri dari processor, memory card dan power supply unit. processor berfungsi untuk mengontrol segala proses PLC, baik dalam hal pengontrolan internal PLC, maupun untuk komunikasi dengan peralatan di luar PLC. CPU PLC mempunyai kecepatan proses yang sangat cepat, kecepatannya tergantung dari tipe dan merk PLC itu sendiri. Conrtoh CPU PLC seperti berikut ini.

1. Memory card

Mengapa PLC butuh memory card? PLC membutuhkan tempat untuk menyimpan user program, tempat penyimpanan user program tersebut di sebut memory card. umumnya memory card PLC terdapat dua jenis memory di dalamnya, yaitu RAM (Random Access Memory) dan ROM (Read Only Memory). RAM biasanya di pasang build in pada PLC, sedangkan ROM biasanya berupa memori tambahan (Option).  RAM merupakan memori yang bisa di baca dan di tulis. Jenis memori ini membutuhkan power supply external untuk mempertahan data yang tersimpan di dalamnya. Jika power supplynya yang terhubung ke memori ini putus, maka data pada memori ini akan hilang. memory ekstenal tersebut biasanya berupa battery back-up yang umumnya sudah di siapkan oleh maker pembuat PLC tersebut. Untuk memori ROM terdapat 2 tipe, yaitu EPROM dan EEPROM. EPROM (Erasable Programmable Read Only Memory). EPROM setelah di isi data, maka tidak bisa di tulis ulang seperti halnya RAM. Untuk menhapus data dalam EPROM membutuhkan sinar ultra violet yang pekat. EPROM tidak butuh power supply eksternal, karena data tidak akan hilang meskipun tidak mendapat power supply. Untuk EEPROM (Electronically Erasable Programmable Read Only Memory) cara kerjasanya sama dengan EPROM, hanya saja untuk menhapusnya menggunakan sinyal listrik, tidak menggunakan sinar ultra violet.

2. PSU (Power Supply Unit)

Sesuai dengan namanya PSU merupakan power supply yang di gunakan untuk mensupply daya pada PLC. umumnya tipe PSU yang di gunakan pada setiap PLC di sesuaikan dengan kebutuhan daya pada CPU PLC. Untuk PLC tipe compact biasanya PSUnya sudah menyatu dengan CPU PLC, sedangkan untuk PLC tipe Rak, modul PSU terpisah.

Point Penting : PSU hanya mensupply daya untuk CPU PLC saja, tidak untuk mensupply daya untuk I/O Module PLC. Mengapa demikian? PSU PLC besar dayanya hanya sebesar kebutuhan daya CPU PLC saja.

3. I/O Module

Module ini adalah modul antar muka (interface) antara CPU PLC dengan peralatan input-output (I/O device), seperti Limit switch, Proximity switch, area sensor, flow sensor, relay, motor, lampu, led, sevent segment, dll. I/O module menurut jenisnya ada 2 macam yaitu :

  1. I/O module digital
  2. I/O module analog

Sedangkan menurut fungsinya juda ada 2 macam, yaitu :

  1. Input module
  2. Output module

I/O module digital adalah I/O module yang digunakan untuk antar muka dengan peralatan Input output yang bekerja hanya dalam 2 kondisi saja, yaitu kondisi on dan kondisi off saja. dimana kondisi off  dalam sistem bilangan biner di kenal dengan NOL (0).  sedangkan kondisi on dengan SATU (0). Untuk I/O module analog di gunakan untuk antar muka dengan peralatan input output yang menghasilkan sinyal analog. sinyal analog yang di gunakan bisa antara 0V s/d +5V, -5V s/d +5V, 0V s/d 12V, -12V s/d +12V. Contoh I/O module seperti gambar berikut ini.

Input Module

Input Module di gunakan untuk antar muka dengan peralatan input, seperti swith, push button dan lainnya. sinyal-2 inputan di kumpulkan di module ini, lalu di lewatkan ke CPU. perubahan sinyal pada peralatan input yang terhubung ke PLC, dibaca dari input module ini. mengapa PLC tidak langsung bisa di hubungkan ke peralatan input? peralatan input bermacam-2 spesifikasinya, ada yang AC, juga ada yang DC. sedangkan sinyal masukan yang di butuhkan oleh CPU PLC hanya berupa sinyal digital 5VDC saja. Sehingga dengan adanya input module, sinyal masukan AC maupun DC di konversi menjadi sinyal digital 5VDC. Ingat yang kita diskusikan di sini adalah input module digital. Input module PLC tersedia bermacam-2, ada yang DC, juga ada yang AC. Kita bisa memilih sesuai dengan yang kita inginkan dalam aplikasi. Pada input module terdapat opto-isolator yang bisa mencegah CPU dari sinyal kejut / lebih dari peralatn input yang terhubung ke input module PLC.

Output Module

Output module fungsinya berkebalikan dengan input module. Output module menampung sinyal keluaran yang di kirim dari CPU untuk di lewatkan ke peralatan output. Ingat sinyal keluaran dari CPU PLC berupa sinyal digital 5VDC, sedangkan peralatan output spesifikasinya berbeda-2 ada yang AC, juga ada yang DC, jadi sebelum di lewatkan ke peralatan output, sinyal keluaran ini di olah oleh output module agar sinyal keluaran bisa AC atau DC, tergantung dari tipe output module yang digunakan. biasanya output module tersedia ada yang AC, juga ada yang DC. ada yang menggunakan relay, ada juga yang menggunakan transistor. Relay atau transistor di gunakan untuk berhubungan dengan beban yang terhubung ke output module PLC. biasanya pada output module terdapat opto isolator yang mencegah terjadinya gangguan yang bisa menyebabkan CPU rusak.

II. Software module (Modul Perangkat lunak)

Setiap PLC sudah di lengkapi dengan software pendukungnya. misalnya Mitsubishi soiftwarenya berupa GX Developer, Omron softwarenya berup CX programmer dan lain sebagainya. Software ini di gunakan untuk pembuatan user program, di samping itu juga software ini di gunakan untuk memonitor, PLC diagnostic, back-up user program dan lainnya.

Contoh tampilan window dari software PLC Mitsubishi seperti dibawah ini.

Ladder diagram

Ladder diagram adalah user program, yaitu program yang di rancang oleh programmer PLC untuk mendesign otomatisasi. Bentuk pemograman ini berupa diagram garis melintang ke kanan dan ke bawah, layaknya digram kontrol relay. Program ini bisa di buat di window software module PLC. Misalnya untuk mendesign ladder diagram PLC mitsubishi, maka harus meng-install terlebih dahulu software GX Developer, setelah itu pembuatan ladder diagram baru bisa di lakukan. Nanti kan di bahas lebih detail bagaimana cara menggunakannya. Gambaran awal dari ladder diagram bisa anda lihat di gambar berikut ini.

Statement Device List

Statement Device List adalah program PLC yang instruksinya mirip pemograman assembler. pemograman ini jarang di gunakan. biasanya di gunakan saat modifikasi program dalam skala perubahan kecil saja. untuk perubahan dalam skala besar hal ini cukup rumit di lakukan karena perlu ke-hatian-2 yang ekstra. Jika kita membuat program menggunakan ladder diagarm, maka secara otomatis statement device list akan terbentuk dan kita bisa melihat hasilnya. Lihat contoh berikut ini.

Bagaimanakah PLC itu bekerja?

Untuk memahami prinsip kerja PLC, maka perhatikan gambar berikut ini.

Prinsip kerja PLC ada 3 point, yaitu :

  1. Memonitor kondisi input
  2. Mengeksekusi program
  3. Merubah kondisi output

3 point tersebut di sebut PLC scan cycle yaitu siklus scan PLC. Lihat gambar berikut :

Detail penjelasan dari prinsip kerja PLC adalah sebagai berikut:

  1. PLC siap membaca sinyal masukan dari input module yang terhubung ke peralatan input (input device), baik terhubung secara paralel maupun serial, tergantung dari tipe input module dan sinyal masukan yang di gunakan.
  2. Jika CPU mendeteksi adanya sinyal masukan yang di kirimkan lewat input modul, maka CPU akan mengeksekusi program yang telah di simpan dalam memori PLC.
  3. Apabila program yang tersimpan dalam memori memerintahkan untuk mengaktifkan peralatan output, maka PLC akan mengirimkan sinyal keluaran melalui bus-bus prosessor CPU yang telah terhubung ke output modul. Informasi yang di terima oleh output modul, di lanjutkan ke peralatan output, sehigga menyebabkan peralatan output bekerja sesuai dengan yang di inginkan oleh program PLC.
  4. PLC akan selalu mengulangi step no.02 s/d no.04 dan akan berhenti jika PLC di matikan.

Sumber : www.zanexio.com

PLC Ladder diagram

Pengenalan

Pemograman PLC umumnya menggunakan ladder diagram. Pemograman ini di dasari dari rangkaian relay, sehingga bentuk pemograman berupa symbol-2 kontak NO, NC, coil, bus bar vertical kanan dan kiri dan lain sebagainya. Hal ini bertujuan untuk memudahkan para engineer atau teknisi listrik mempelajari PLC. Jika engineer atau teknisi listrik sudah memahami konsep relay, maka akan lebih mudah mempelajari PLC. Jika belum mengerti tentang relay baca artikel saya sebelumnya tentang Basic Relay dan Relay Wiring Diagram

Relay wiring diagram vs. PLC ladder diagram

Perbedaan antara Relay wiring diagram dengan PLC ladder diagram dapat di lihat pada gambar berikut:

Coba anda perhatikan gambar di atas dengan seksama, apa yang bisa anda simpulkan dari gambar di atas. OK, Jangan kwatir saya akan kupas satu persatu dari gambar di atas. coba anda lihat gambar berikut.

Dalam ladder diagram peralatan input baik berupa kontak, switch, sensor dan lain-lain hanya di tulis dengan simbol NO atau NC saja. hanya saja simbol NO atau NC tersebut mempunyai alamat spesifik dari peralatan input tersebut. dimana peralatan input tersebut terhubung, begitu juga peralatan output. Dari contoh di atas, Switch kondisi normalnya NO, maka dalam pemograman PLC di atas di tulis dengan simbol NO dengan alamat X0. Begitu juga PB1, alamatnya di X1. sedangkan PB2 kondisi normalnya NC, namun dalam pemograman PLC di atas di tulis dengan simbol NO juga di alamat X2. Mengapa PB2 dalam program plc di tulis dengan NO dengan alamat X2? hal ini bertujuan agar program yang di buat cara kerjanya sama dengan rangakaian relay wiring diagram. Pada rangkaian relay wiring diagram PB2 di fungsikan sebagai tombol reset. maka dalam program ladder diagram juga di fungsikan yang sama dengan relay wiring diagram. Untuk Coil relay (R1) pada contoh di atas  di tulis dengan simbol M1 di program PLC. M1 di sini adalah internal relay, relay yang di maksud bukan berupa hardware, tetapi software. M1 di sini adalah internal relay yang di siapkan untuk di gunakan sebagai pengganti hardware Relay yang sesungguhnya. Sedangkan Lampu (L1) dalam program di atas di tulis dengan Y20 dalam program PLC. Artinya PLC tidak bisa langsung di hubungkan ke beban. Untuk mengaktifkan beban, PLC mengirim sinyal ke output module, lalu dari output module di lanjutkan ke beban. Dari contoh di atas Lampu di hubungkan ke Y20.

Bagi anda yang masih awam dengan PLC, mungkin anda makin pusing dengan gambar di atas atau mungkin anda berpikiran, pakai plc malah bikin ruwet. anggapan seperti itu sangat salah, karena dengan plc anda tidak perlu merubah wiring untuk merubah sistem kerja dari rangkaian di atas. anda hanya cukup merubah program yang ada. Cara kerja program di atas dapat anda lihat pada table berikut:

Input Output
Switch PB1 PB2 Lampu
off x x off
x off x off
x x off off
on on on on

Catatan :

tanda X artinya kondisinya bisa on atau bisa off.

Jika PB2 itu di tekan, maka sambungan PB2 putus. kondisi ini di katakan kondisinya off. Fungsi PB2 di atas adalah sebagai tombol reset.

Jika PB1 di tekan, lalu di lepas lagi, maka Lampu tetap menyala, karena kontak  X1 (PB1) di hold / di tahan oleh kontak M1 internal relay.

Beda Cara Kerja

Jika anda menginginkan cara kerjanya berbeda dengan sebelumnya maka anda cukup merubah programnya saja. misalkan anda menginginkan cara kerja seperti ini.

Input Output
Switch PB1 PB2 Lampu
x x off off
x off x off
off on on on
on on on off

Dengan cara kerja di atas, maka program ladder diagramnya berubah menjadi seperti berikut ini.

Coba anda bandingkan dengan program sebelumnya, perbedaannya hanya di kontak X0 saja. gampang bukan. Saya pikir Penjelasan mengenai hal ini terlalu luas dan melebar. hal ini saya lakukan hanya untuk menunjukkan bahwa pemograman plc itu mirip dengan rangkaian relay wiring diagram. Dengan plc anda tidak perlu merubah wiring cukup hanya dengan merubah program ladder diagarm saja.

Key Point / Point Penting

Contoh di atas jangan anda ambil pusing, tinggalkan saja, tidak usah di pikirkan. anda perhatikan gambar berikut.

Penjelasan dari gambar di atas adalah sebagai berikut:

  1. Busbar vertikal yang ada di sebelah kiri adalah busbar daya yang berfungsi sebagai arah sinyal. artinya aliran sinyal mengalir dari kiri ke kanan
  2. Simbol X0 di atas adalah simbol NO dari sebuah device plc. untuk device plc yang berupa kontak NO atau NC itu bisa berasal dari peralatan input yang terhubung pada input module PLC, bisa juga kontak dari device internal relay M atau dari device yang lain, seperti device Y, T,C dan lain sebagainya.
  3. Di bawah simbol kontak NO pada alamat X0 terdapat tulisan “switch”, ini adalah komentar yang di tulis oleh designer untuk memudahkan memonitor program yang sudah di buat.
  4. Garis lurus horizontal yang di akhiri dengan garis titik-titik, maksudnya adalah garis instruksi yang bisa di pakai untuk mengembangkan program yang di buat.

Selanjutnya anda perhatikan gambar potongan selanjutnya dari gambar ladder diagram pada gambar berikut ini.

Penjelasan dari gambar di atas adalah sebagai berikut:

  1. Simbol M0 di atas adalah device yang di gunakan sebagai output / coil.
  2. Tulisan master on pada device M0 di atas adalah komentar yang di tulis oleh designer yang menyatakan fungsi dari device tersebut.
  3. Busbar vertical sebelah kanan merupakan busbar daya yang sinyalnya sudah standby. artinya jika sinyal dari busbar vertikal sebelah kiri sudah sampai pada terminal paling kiri dari device output / coil, maka device tersebut akan aktif / bekerja. Jika device tersebut berupa coil dari internal relay M, maka kontak-2 internal relay M akan bekerja.

Bagaimana ? anda sudah punya banyangan mengenai ladder diagram. Jika belum baca sekali lagi artikel di atas atau baca artikel kami lainnya yang berhubungan dengan pemograman PLC.

Sumber : www.zanexio.com

PLC Wiring

Untuk memudahkan dalam mempelajari cara wiring PLC, maka anda harus tahu dulu piranti penyusun PLC. Jika anda belum tahu maka pelajari artikel kami sebelumnya mengenai pengenalan PLC

Simbol-simbol

Untuk wiring PLC anda harus tahu terlebih dahulu simbol-simbol yang di gunakan dalam wiring PLC, jika anda tidak / kurang mengetahui simbol-2 yang di gunakan dalam wiring PLC, maka anda pasti akan ke bingungan saat anda mempelajari PLC lebih dalam. Simbol yang di gunakan dalam wiring PLC adalah sbb:

Simbol-2 di atas harus di ingat-ingat atau di hafalkan, karena wriring PLC dengan peralatan input (input device) dan peralatan output(output device) menggunakan simbol-simbol di atas.

Cara wiring PLC

cara wiring PLC di dasari pada adanya 2 tipe sensor yang di gunakan dalam sistem otomatisasi. kedua tipe sensor tersebut adalah tipe NPN dan PNP. Karena cara kerja kedua sensor tersebut berbeda, maka input module PLC harus bisa di gunakan untuk kedua tipe sensor tersebut tanpa ada masalah Oleh sebab itu cara wiring PLC juga ada 2 macam, yaitu:

  1. Sinking
  2. Sourcing

Metode Sinking

Metode wiring sinking secara simple adalalah metode wiring dengan cara menghubungkan Common input module PLC ke sumber positif DC power supply dan menghubungkan saluran input module ke sumber negatif power supply. Lihat gambar di samping.

Gambar di samping adalah contoh wiring metode sinking untuk peralatan input berupa switch, push button NO dan push button NC. tetapi bukan untuk sensor tipe NPN. Bagaimana cara wiring sensor tipe NPN..? Lihat gambar berikut ini.

Gambar di atas adalah contoh wiring proximity switch tipe NPN 3 kabel, lalu bagaimana dengan wiring proximity switch tipe NPN 2 kabel. Lihat gambar berikut ini.

Dengan contoh di atas saya harap anda bisa mengerti konsep wiring PLC metode sinking.

Metode Sourcing

Metode wiring sourcing secara simple adalalah metode wiring dengan cara menghubungkan Common input module PLC ke sumber negatif DC power supply dan menghubungkan saluran input module ke sumber positif power supply. Lihat gambar berikut ini.

Coba anda bandingkan dengan gambar wiring metode sinking. Gambar di atas kebalikan dari metode sinking. dimana saluran common (COM) di hubungkan dengan V-, sedangkan pada metode sinking COM di hubungkan dengan V+. Gampang bukan?

Apakah sensor NPN bisa di sambung menggunakan metode sourcing?

Jawabannya : TIDAK BISA

Mengapa ? Saluran output sensor NPN saat on nilainya NOL (V-). Coba anda baca dan pelajari lagi cara kerja sensor NPN. Sedangkan metode Sourcing pada saluran inputnya di inginkan sumber tegangan positif (V+).

lalu bagaimana dengan sensor PNP apakah bisa di hubungkan dengan metode Sourcing?

Jawabannya BISA. Karena saluran output sensor PNP adalah sumber positif power supply. lihat contoh wiring berikut ini.

Sedangkan untuk wiring sensor PNP 2 kabel adalah sebagai berikut:

Bagaimana anda sudah cukup mengerti apa masih belum?

sumber : www.zanexio.com